Inflasi NTB April 2026 Tembus 3,27 Persen

redaksi
3 Min Read
Sekretaris Daerah NTB, Abul Chair bersama Kepala BPS NTB Wahyuddin dan Asisten II Setda NTB Lalu Moh Paozal.

MATARAM, mandalikanesia.com — Inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada April 2026 tercatat sebesar 3,27 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,27. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,23 persen, sementara terendah di Kabupaten Sumbawa sebesar 2,82 persen.

Sekretaris Daerah NTB, Abul Chair, menegaskan bahwa rilis Berita Resmi Statistik (BRS) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) harus menjadi rujukan utama dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah.

“Data BPS ini adalah cermin bagi kita semua untuk melihat kondisi riil daerah, sekaligus menjadi kompas dalam merumuskan langkah ke depan,” ujarnya saat menghadiri rilis BRS di Mataram, Senin (4/5/2026).

Ia menekankan, data statistik tidak untuk diperdebatkan, melainkan dijadikan dasar evaluasi dan perbaikan kebijakan. Menurutnya, respons terhadap dinamika ekonomi daerah harus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, terutama dalam menjaga stabilitas harga.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus memperkuat tiga aspek utama pengendalian inflasi, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, serta kelancaran distribusi.

“Ketersediaan itu bukan hanya produksi, tetapi juga cadangan. Keterjangkauan mencakup akses fisik dan daya beli masyarakat, serta distribusi harus dijaga tetap lancar,” jelasnya.

Menghadapi momentum Idul Adha, Pemprov NTB juga menyiapkan langkah intervensi seperti operasi pasar dan pasar murah guna menekan potensi lonjakan harga akibat peningkatan permintaan.

Sementara itu, Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa secara bulanan (month to month/m-to-m), NTB pada April 2026 mengalami deflasi sebesar 0,11 persen. Adapun inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,82 persen.

Deflasi tersebut dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas bahan pangan seperti cabai rawit, daging ayam ras, kubis, dan udang basah. Kondisi ini didorong oleh ketersediaan pasokan yang memadai serta menurunnya konsumsi masyarakat pasca Ramadan dan Idul Fitri.

Namun demikian, beberapa komoditas masih memberikan tekanan inflasi, di antaranya tarif angkutan udara, air minum, tomat, minyak goreng, serta bahan bakar rumah tangga.
BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada April 2026 sebesar 128,00 atau turun 1,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi akibat turunnya indeks harga yang diterima petani, sementara indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan. (mn3)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *