Putri Mahkota Swedia Apresiasi Gerakan Warga Gili Meno Jaga Lingkungan

redaksi
3 Min Read
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mendampingi Putri Mahkota Swedia, HRH Crown Princess Victoria mengunjungi Gili Meno, Lombok Utara, Minggu (6/9/2026).

TANJUNG – Kepedulian masyarakat Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam menjaga kelestarian lingkungan mendapat apresiasi dari UNDP Goodwill Ambassador sekaligus Putri Mahkota Swedia, HRH Crown Princess Victoria.

Apresiasi tersebut disampaikan saat Putri Mahkota Swedia mengikuti dialog lingkungan di Gili Meno, Minggu (6/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.

Dialog yang berlangsung di Jali Cafe, Gili Meno, mempertemukan Putri Mahkota dengan masyarakat lokal yang selama ini menjalankan berbagai inisiatif berbasis lingkungan.

Warga juga memamerkan sejumlah produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dibuat dengan memanfaatkan serta mendaur ulang sampah plastik dan botol bekas.

“Saya sangat terkesan dengan semua aktivitas dan berbagai inisiatif lokal yang ada. Ini adalah tempat yang luar biasa indah,” ujar Victoria.

Menurut dia, menjaga kelestarian lingkungan di kawasan tersebut merupakan kepentingan bersama. Ia juga berharap berbagai praktik baik yang dilakukan masyarakat Gili Meno dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

“Melakukan segala daya kita untuk menjaganya adalah demi kepentingan terbaik kita semua. Terima kasih telah menjadi teladan, dan saya berharap contoh inisiatif Anda dapat dibawa ke tempat lain,” katanya.

Kepala Dusun Gili Meno menjelaskan, sekitar 80 persen warga menggantungkan kehidupan pada perairan. Kondisi tersebut mendorong masyarakat memperkuat perlindungan terhadap kawasan laut melalui pembagian zona inti konservasi dan zona pemanfaatan bagi nelayan.

Pengawasan terhadap zona-zona tersebut juga dilakukan secara ketat untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan kelestarian ekosistem.

Ketua Meno Lestari mengatakan, keindahan terumbu karang merupakan salah satu daya tarik utama wisatawan yang datang ke Gili Meno.

Karena itu, masyarakat menjalankan berbagai kegiatan konservasi, mulai dari pengawasan kawasan, penanaman terumbu karang secara berkala, hingga penghijauan pesisir. Salah satu upaya penghijauan dilakukan melalui penanaman mangrove di kawasan Danau Asin Gili Meno.

Pertumbuhan pariwisata juga menghadirkan tantangan berupa peningkatan volume sampah. Masyarakat Gili Meno memilih menghadapinya dengan membangun kebiasaan menjaga kebersihan sebagai bagian dari budaya masyarakat.
Ketua Masyarakat Adat Gili Tramena memperkenalkan program Leahin Gubuk atau Clean-Up Day yang digelar setiap Minggu.

“Setiap hari Minggu, kami memungut sampah selama satu jam dengan melibatkan semua unsur. Mudah-mudahan ini menjadi budaya bersama, sehingga pariwisata yang memberi manfaat bisa dinikmati jangka panjang,” ujarnya.

Kegiatan dialog tersebut turut dihadiri Wamen PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert, Deputi Bappenas Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo, serta Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella. (mn3)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *