Dijanjikan Kerja di Singapura, Pemuda Mataram Malah Terjebak di Myanmar, Keluarga Diminta Tebusan Rp70 Juta

redaksi
4 Min Read
Nurjanah, bu kandung Yanuar TKI yang dimintai tebusan oleh warga Myanmar, mengadu saat mendatangi kantor PWI NTB, Rabu (23/9/2026) petang.

MATARAM, Mandalikanesia.com — Harapan keluarga Muhamad Yanuar Fikri (26), pemuda asal Karang Kelok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, untuk melihat anaknya kembali bekerja di Singapura berubah menjadi kecemasan.

Yanuar yang semula berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk bekerja di Singapura, justru mengabarkan kepada keluarga bahwa dirinya berada di Myanmar.

Kabar tersebut membuat keluarga panik. Terlebih, berdasarkan komunikasi dengan keluarga, Yanuar mengaku berada di kawasan pegunungan dan menyebut dirinya berada dalam pengawasan tentara.

Kisah tersebut disampaikan ibu kandung Yanuar, Nurjanah, saat mendatangi kantor PWI NTB, Rabu (23/9/2026) petang.

Nurjanah mengatakan, sekitar sepekan sebelumnya, Yanuar berpamitan kepada keluarga. Saat itu, Yanuar menyampaikan rencana untuk kembali bekerja di Singapura, seperti pekerjaan yang pernah dijalaninya.

“Sekitar seminggu yang lalu anak saya pamitan. Katanya bekerja seperti sebelumnya di Singapura,” ujar Nurjanah sambil menangis.

Namun, harapan tersebut berubah menjadi kepanikan ketika sekitar pukul 17.00 Wita, Yanuar menghubungi keluarganya.

Dalam komunikasi itu, Yanuar menyampaikan bahwa dirinya bukan berada di Singapura, melainkan berada di Myanmar.

Menurut Nurjanah, anaknya mengaku berada di atas sebuah gunung di Myanmar. Sementara di bawah gunung, disebut terdapat tentara yang melakukan penjagaan.

Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir. Apalagi, menurut ayah Yanuar, Herman, anaknya menyampaikan bahwa dirinya dapat dipulangkan ke Indonesia dengan syarat keluarga membayar uang Rp70 juta kepada seorang manajer.

“Manajer minta tebusan Rp70 juta,” kata Herman.

Permintaan tersebut membuat keluarga Yanuar semakin terdesak. Herman mengaku tidak memiliki uang sebesar itu.

“Kami tidak ada uang sebanyak itu,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, keluarga hanya berharap ada jalan agar Yanuar dapat segera kembali ke Lombok dan berkumpul bersama keluarganya.

“Harapan kami bisa kembali,” kata Herman.

Keluarga Yanuar mengaku tidak tinggal diam. Mereka telah berupaya mencari bantuan untuk memastikan keberadaan dan keselamatan Yanuar sekaligus mencari jalan agar anak mereka dapat dipulangkan.

Herman mengatakan pihak keluarga telah melaporkan persoalan tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda NTB. Keluarga juga berupaya meminta bantuan kepada pimpinan DPRD NTB, Muzihir.

“Waktu di Polda NTB diarahkan ke Unit PPA. Mereka bilang hanya bisa menegakkan hukum,” ungkap Herman.

Keluarga juga telah menghubungi Muzihir. Namun, saat itu yang bersangkutan sedang berada di luar kota.
“

Pak Muzihir sedang di luar kota. Beliau minta ke Komisi V DPRD NTB besok,” katanya.

Keluarga kini berharap persoalan yang dialami Yanuar mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait.

Mereka meminta bantuan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Kementerian Ketenagakerjaan, serta pihak terkait lainnya untuk membantu memastikan keberadaan dan keselamatan Yanuar.

Keluarga juga berharap dukungan masyarakat dan media dapat membantu menyuarakan persoalan tersebut sehingga keberadaan Yanuar di Myanmar dapat segera diketahui dan upaya pemulangan dapat dilakukan.

Bagi keluarga, persoalan tersebut kini bukan lagi sekadar tentang pekerjaan. Mereka hanya ingin memastikan Yanuar berada dalam keadaan selamat dan dapat kembali ke Lombok.

“Kami berharap anak kami bisa kembali,” ujar Herman.

Sekretaris PWI NTB Fahrul Mustofa yang menerima kedatangan keluarga Yanuar bersama sejumlah wartawan mengatakan kantor PWI NTB terbuka bagi masyarakat yang ingin menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) NTB.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Tenaga Kerja Disnaker NTB M Anang Yusran mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan terkait Yanuar.
Anang memastikan Disnaker NTB akan mengawal persoalan yang dihadapi keluarga pemuda asal Karang Kelok tersebut.

“Insya Allah, besok pagi akan saya follow up masalah ini,” kata Anang.

Disnaker NTB selanjutnya akan menelusuri informasi terkait keberadaan Yanuar dan kondisi yang dialaminya, termasuk langkah yang dapat dilakukan untuk membantu proses penanganannya. (mn3)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *