GERUNG, mandalikanesia.com — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi NTB menerima kunjungan kerja strategis dari Bank Indonesia Perwakilan (BI)Provinsi NTB dalam rangka inisiasi kerja sama penelitian pengendalian inflasi daerah, Jumat (8/5/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Kantor BRIDA NTB tersebut difokuskan pada sinkronisasi data riset guna memperkuat ketahanan ekonomi regional dan mempercepat penyusunan kebijakan berbasis data.
Melalui kolaborasi itu, Pemerintah Provinsi NTB bersama Bank Indonesia menargetkan penyusunan peta jalan (roadmap) mitigasi biaya logistik pada sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras, cabai, bawang merah, dan daging sapi.
Langkah teknis yang disiapkan meliputi pemantauan freight rate pada jalur distribusi darat maupun laut untuk mengidentifikasi faktor utama penyebab disparitas harga di pasar.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, I Gede Putu Aryadi, mengatakan kerja sama tersebut menjadi langkah konkret dalam menghadirkan kebijakan pemerintah yang berbasis riset dan kebutuhan masyarakat.
“Kami mengapresiasi dukungan Bank Indonesia dalam penelitian ini. Sinergi BRIDA NTB dan BI akan memperkuat pengembangan inovasi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus memberikan masukan kebijakan berbasis data untuk pengendalian inflasi dan penguatan ekonomi lokal,” ujarnya.
Menurut Aryadi, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi bahan rekomendasi kebijakan, tetapi juga mampu mendorong pengembangan produk lokal yang lebih berkualitas dan berdaya saing.
Kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat biaya logistik nasional saat ini masih menyumbang sekitar 14 hingga 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara tingkat inflasi NTB tercatat berada pada angka 4,9 persen.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Andhi Wahyu Riyadno, menegaskan bahwa riset kolaboratif tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan digitalisasi transaksi.
Ia berharap sinergi program antara BI dan BRIDA, khususnya di sektor pertanian dan energi, mampu memberikan dampak langsung terhadap stabilitas harga di tingkat konsumen.
Secara administratif, penelitian akan dilakukan melalui empat tahapan utama, yakni penentuan baseline, pengumpulan data lapangan, analisis mendalam, hingga validasi kelompok komoditas.
Selain fokus pada pengendalian inflasi, kedua pihak juga membahas potensi optimalisasi 84 persen lahan kering di NTB serta pengembangan program Waste to Energy di 108 desa sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi hijau.
Kerja sama tersebut nantinya akan melibatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan kalangan akademisi guna memastikan hasil penelitian memiliki legitimasi ilmiah serta dapat diterapkan secara efektif dalam kebijakan daerah. (mn3)



