NTB Ajukan Tambora Jadi UNESCO Global Geopark

redaksi
4 Min Read
Pemerintah Provinsi NTB resmi mengajukan kawasan Tambora sebagai UNESCO Global Geopark.

MATARAM, mandalikanesia.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mengajukan kawasan Tambora sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Presentasi pengajuan dilakukan secara daring oleh Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, di hadapan tim panelis UNESCO, Rabu (13/5/2026).

Dalam pemaparan tersebut, gubernur didampingi Sekretaris Bappeda NTB, Baiq Yunita Puji Widiani, General Manager Badan Pengelola Geopark Tambora, Makdis Sari, serta General Manager Rinjani UNESCO Global Geopark, Qwadru P. Wicaksono.

Di hadapan panelis, Gubernur Lalu Iqbal menegaskan NTB tidak memulai dari nol dalam pengelolaan kawasan geopark berstandar internasional. Pengalaman mengelola Rinjani UNESCO Global Geopark, menurut dia, menjadi modal penting untuk mengembangkan Tambora sebagai pusat konservasi dan edukasi geologi dunia.

“Yang bisa kami pastikan, kami tidak mulai dari nol. Kami sudah memiliki pengalaman dalam mengelola geopark dan menjadikannya sebagai pusat pelestarian lingkungan, konservasi geologi, serta penguatan masyarakat di kawasan tersebut,” ujar Lalu Iqbal.

Ia menyebut Tambora sebagai forgotten gem yang selama ini belum mendapatkan perhatian sebesar Gunung Rinjani. Padahal, kawasan itu menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan biodiversitas yang sangat bernilai.

Menurut Gubernur Lalu Iqbal, kawasan Geopark Tambora mencakup tiga wilayah budaya utama, yakni Bima, Dompu, dan Sumbawa. Ketiga daerah tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dalam upaya konservasi maupun pengembangan kawasan geopark secara berkelanjutan.

“Tambora memiliki tiga kultur besar, yaitu Bima, Dompu, dan Sumbawa. Seluruhnya akan terlibat dalam proses konservasi dan pengembangan kawasan geopark ini,” katanya.

Selain kekayaan budaya, Tambora juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Salah satu kawasan penting berada di Teluk Saleh yang menjadi habitat hiu paus (whale shark) dengan populasi yang cukup besar.

Lalu Iqbal menjelaskan, posisi geografis Tambora yang berada di sebelah timur Garis Wallace menjadikan kawasan tersebut kaya akan flora dan fauna endemik. Hingga kini, sedikitnya 275 spesies telah berhasil diidentifikasi, meski jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

“Kami meyakini masih banyak spesies endemik yang belum teridentifikasi. Sebagian bahkan terancam akibat penggundulan hutan dan praktik illegal logging,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTB, lanjut dia, berkomitmen memperkuat kawasan Geopark Tambora maupun Geopark Rinjani sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan hidup. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui penetapan kawasan konservasi di Teluk Saleh untuk menjaga ekosistem laut dan keanekaragaman hayati.

Sementara itu, Makdis Sari menegaskan bahwa Tambora memiliki nilai penting bukan hanya dari sisi geologi, tetapi juga biodiversitas dan budaya masyarakat.

“Tambora bukan sekadar gunung berapi. Ia adalah arsip hidup dari peristiwa geologis yang mengubah sejarah manusia,” kata Makdis.

Ia menjelaskan, letusan Gunung Tambora pada 1815 tercatat sebagai salah satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern. Peristiwa tersebut diperkirakan menewaskan lebih dari 70 ribu orang dan memicu perubahan iklim global akibat sebaran abu vulkanik ke atmosfer.

Fenomena yang kemudian dikenal sebagai The Year Without Summer di Eropa menjadi salah satu dampak paling terkenal dari letusan tersebut.

“Inilah yang membuat Tambora memiliki keunikan geologi kelas dunia. Dampaknya tercatat jelas dan jejaknya masih dapat ditelusuri hingga hari ini,” ujarnya. (mn2)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *