DPRD NTB Ingatkan BI dan TPID Serius Pengendalian Inflasi

redaksi
3 Min Read
Wakil Ketua DPRDNTB, Lalu Wirajaya

MATARAM, mandalikanesia.com Wakil Ketua DPRDNTB, Lalu Wirajaya, meminta Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB untuk serius memperkuat langkah pengendalian inflasi agar tidak melampaui angka nasional.

Menurut Wirajaya, tingginya inflasi akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Karena itu, diperlukan langkah konkret dan terukur untuk menekan laju kenaikan harga di lapangan.

“Kami berharap BI dan TPID segera melakukan upaya pengendalian yang terukur supaya inflasi di NTB tidak melampaui nasional. Kasihan masyarakat, karena beban kenaikan harga akan dirasakan langsung,” ujar politisi Partai Gerindra tersebut, Selasa (28/4/2026).

Ia menilai, pengendalian inflasi perlu diperkuat melalui berbagai strategi, termasuk melakukan studi komparasi ke daerah lain yang dinilai berhasil menjaga stabilitas harga. Menurutnya, praktik baik dari daerah lain dapat diadopsi dan disesuaikan dengan kondisi NTB.

“Kita tidak perlu malu belajar dari daerah lain yang pengendalian inflasinya baik. Program-program yang berhasil bisa diadopsi,” katanya.

Selain itu, Wirajaya menyoroti bahwa BI dan TPID NTB telah memiliki sejumlah program pengendalian inflasi pada tahun-tahun sebelumnya yang dapat dijadikan rujukan. Ia mendorong agar program tersebut dilanjutkan dengan inovasi baru agar lebih efektif.

Sejumlah program yang telah dijalankan antara lain TANCABKAN GAS (Tanam Cabai Kendalikan Harga), operasi pasar murah, penguatan kerja sama antar daerah, hingga pengembangan agribisnis terpadu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, laju inflasi NTB dalam dua bulan terakhir tercatat lebih tinggi dibandingkan nasional. Pada Maret 2026, inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 4,09 persen, melampaui nasional sebesar 3,48 persen. Sementara pada Februari 2026, inflasi NTB tercatat 5,37 persen (yoy), juga lebih tinggi dari nasional sebesar 4,76 persen.

Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi NTB pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,81 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, kubis, serta sigaret kretek mesin. Adapun penyumbang inflasi bulanan di antaranya cabai rawit, kubis, dan daging ayam ras.

Meski demikian, Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan keempat April 2026 tercatat minus 1,81 persen, dipengaruhi oleh penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi.

Dalam laporan perekonomian provinsi yang dirilis Bank Indonesia, tekanan inflasi di NTB diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang 2026. Meski demikian, inflasi tetap diproyeksikan berada dalam kondisi terkendali.

Peningkatan inflasi dipicu oleh potensi kenaikan permintaan pangan serta volatilitas harga komoditas global. BI bersama TPID terus memperkuat sinergi melalui berbagai program, termasuk Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), guna menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat. (mn3)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *