MATARAM, mandalikanesia.com — Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus diperluas pemerintah untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil, terdepan, dan kepulauan. Selain mendukung percepatan penurunan angka stunting, kehadiran SPPG Modular Krakatau Steel juga diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru di desa-desa.
Peluncuran SPPG Modular Krakatau Steel di Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, dilakukan serentak bersama sejumlah daerah lain di Indonesia melalui sambungan virtual, termasuk wilayah di Kalimantan dan Manado. Program tersebut mendapat dukungan Krakatau Steel sebagai bagian dari kontribusi BUMN dalam mendukung program pemerintah.
Komisaris Independen Krakatau Steel Willgo Zainar, mengatakan perusahaan tidak hanya mendukung pelaksanaan program di NTB, tetapi juga di berbagai wilayah lain di Indonesia.
“SPPG ini bukan hanya untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja, khususnya anak-anak muda di sekitar lokasi SPPG,” ujar Willgo.
Sebelumnya, Selasa (12/5/2026), Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Dadan Hindayana, didampingi Willgo Zainar serta Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, meresmikan SPPG Modular PT Krakatau Steel di Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Peresmian dilakukan secara serentak melalui konferensi virtual bersama sejumlah provinsi lain di Indonesia.
Willgo menyebut, secara nasional Krakatau Steel menargetkan pembangunan sekitar 500 unit SPPG di berbagai daerah. Khusus di NTB, direncanakan terdapat 13 hingga 14 titik SPPG yang tersebar di Kabupaten Lombok Utara dan Sumbawa.
Pembangunan SPPG Modular diprioritaskan untuk wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), termasuk kawasan kepulauan yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau layanan pemenuhan gizi. Setiap unit SPPG ditargetkan melayani maksimal 1.000 penerima manfaat, mulai dari siswa SD, SMP, SMA, ibu hamil, ibu menyusui, hingga kelompok lanjut usia.
Selain memperluas akses pemenuhan gizi masyarakat, keberadaan SPPG juga diharapkan mampu menciptakan rantai pasok ekonomi baru yang melibatkan masyarakat sekitar.
Kebutuhan bahan pangan seperti sayuran, ikan, buah-buahan, dan hasil peternakan direncanakan dipasok langsung oleh warga di sekitar lokasi. Setiap unit SPPG diperkirakan mampu menyerap sekitar 20 hingga 25 tenaga kerja lokal, bergantung pada kondisi dan kebutuhan wilayah masing-masing.
“Harapannya produk pertanian dan perikanan masyarakat bisa terserap langsung, sehingga ekonomi desa ikut bergerak,” kata Willgo. (mn3)



