Dari Tari Nyemulaq hingga Wastra Lokal, Meriahkan Hari Kebudayaan Nasional di Taman Budaya NTB

redaksi
5 Min Read
Pertunjukan Seni Teatrikan di Taman Budaya, pada peringatan Hari Kebudayaan Nasional.

MATARAM, Mandalikanesia.com — Kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di Nusa Tenggara Barat, ia hidup melalui tarian yang merekam ketangguhan masyarakat, lagu-lagu tradisional yang menyatukan identitas etnis, hingga kain lokal yang menjelma menjadi karya fesyen bernilai ekonomi. Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026 di Teater Taman Budaya NTB, Sabtu (17/10/2026).

Mengusung tema “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya: Berakar, Bertumbuh, Berbuah untuk NTB Makmur Mendunia”, pergelaran tersebut mempertemukan tradisi dan kreativitas generasi muda. Panggung menjadi ruang perjumpaan bagi warisan budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo, sekaligus menunjukkan bagaimana kekayaan lokal dapat terus berkembang mengikuti zaman.

Peringatan tahun ini memiliki arti tersendiri bagi Pemerintah Provinsi NTB. Kegiatan tersebut menjadi momentum perdana sejak pembentukan Dinas Kebudayaan Provinsi NTB sebagai perangkat daerah tersendiri, sejalan dengan pembentukan Kementerian Kebudayaan di tingkat nasional.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri, Sekretaris Daerah Abul Chair, dan Ketua TP PKK NTB Sinta M. Iqbal turut menyaksikan pertunjukan yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan daerah.

Panggung dibuka dengan Tari Nyemulaq, sebuah pertunjukan yang merefleksikan perjuangan dan ketangguhan masyarakat dalam membangun kembali Kampung Adat Sade setelah dilanda kebakaran.

Tarian itu tidak semata menyuguhkan gerak dan estetika. Di dalamnya tersimpan cerita tentang masyarakat yang berupaya mempertahankan ruang hidup dan warisan leluhurnya di tengah musibah.

Kebudayaan, dalam konteks ini, menjadi medium untuk merekam ingatan kolektif. Peristiwa yang meninggalkan luka tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi diolah menjadi ekspresi seni yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Nuansa keberagaman kemudian menguat melalui medley lagu tradisional dari tiga wilayah budaya utama NTB. Para talenta muda jebolan Gita Bahana Nusantara 2026 membawakan Dambe-Dambe dari Bima, Poto Tano dari Sumbawa, dan Lalo Ngaro dari Lombok.

Penampilan tersebut memperlihatkan kekayaan musikal NTB dalam satu panggung. Perbedaan bahasa, irama, dan tradisi tidak menghapus identitas masing-masing, melainkan membentuk mozaik kebudayaan yang menjadi kekuatan daerah.

Para penampil itu sebelumnya juga telah membawa nama NTB dalam perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.

Dari panggung musik, perhatian beralih ke dunia fesyen. Siswa SMKN 4 Mataram memperagakan busana berbahan wastra khas NTB yang dirancang dan diproduksi secara mandiri oleh pihak sekolah.

Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa kain tradisional memiliki ruang untuk berkembang di luar fungsi dan pemakaian konvensional. Melalui desain yang lebih kontemporer, wastra lokal dapat menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus meninggalkan identitas budayanya.

Di titik ini, pelestarian budaya bertemu dengan ekonomi kreatif. Kain tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai simbol warisan leluhur, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Namun, potensi itu memerlukan ekosistem pendukung. Pendidikan desain, keterampilan produksi, akses pasar, dan keberlanjutan regenerasi perajin menjadi bagian penting agar kreativitas tidak berhenti sebagai pertunjukan sesaat.

Di antara pertunjukan tradisional dan ekspresi kontemporer, momen itu turut memberi warna tersendiri pada perayaan kebudayaan tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhammad Ihwan, mengatakan pemerintah memprioritaskan revitalisasi tiga fasilitas utama tahun ini, yakni Kompleks Taman Budaya, Museum NTB, dan Istana Dalam Loka di Kabupaten Sumbawa.

Menurut Ihwan, pembenahan tersebut ditargetkan rampung menjelang Hari Jadi Provinsi NTB pada 17 Desember 2026. Dengan begitu, fasilitas kebudayaan diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal oleh para seniman dan komunitas budaya.

Teater Taman Budaya yang menjadi lokasi pergelaran masih menjalani tahap akhir renovasi.
Bagi para pelaku seni, keberadaan ruang pertunjukan, museum, dan bangunan bersejarah bukan sekadar urusan fisik. Fasilitas tersebut merupakan bagian dari infrastruktur yang memungkinkan karya dipentaskan, pengetahuan diwariskan, dan identitas lokal dipertahankan.

Ihwan mengatakan pembentukan Dinas Kebudayaan mencerminkan upaya pemerintah daerah menyeimbangkan pembangunan fisik dengan pembangunan karakter masyarakat.

“Untuk apa kita membangun sebagus-bagusnya kalau roh dan jiwanya tidak kita bangun? Bapak Gubernur menitipkan dua hal melalui Dinas Kebudayaan, yakni membangun badannya dan membangun jiwanya,” ujar Ihwan.

Ihwan menyebut sekitar 150 usulan program kebudayaan dari NTB telah diajukan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 proposal dinyatakan lolos kurasi nasional untuk memperoleh pembiayaan melalui skema Dana Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan.

Angka tersebut menunjukkan adanya peluang bagi pelaku kebudayaan daerah untuk memperoleh dukungan di tingkat nasional. Meski demikian, keberhasilan pendanaan pada tahap pengajuan perlu diikuti pelaksanaan program yang berkualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ihwan mendorong seniman, budayawan, dan generasi muda agar aktif memanfaatkan peluang pendanaan tersebut untuk mengembangkan karya serta memperluas kegiatan kebudayaan.

Ia juga mengajak para orang tua membawa anak-anak yang memiliki bakat seni ke Taman Budaya agar kemampuan mereka dapat dibina secara profesional. (mn4)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *